Kementerian ESDM Resmikan 53 Sumur Bor di Jawa Timur

 Jember, (Suryamojo.com) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meresmikan membangun 53 sumur bor yang tersebar di desa-desa yang sulit air bersih, di 18 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kemeterian ESDM, Agung Pribadi dalam keterangan persnya, Selasa (10/4/2018) menyampaikan, tidak seperti sumur bor pada umumnya, sumur bor yang dibiayai APBN 2017 tersebut memiliki kedalaman sekitar 125 meter dengan debit air 2 liter per detik. Satu sumur bor dapat melayani hingga lebih dari 2.000 jiwa per sumur.
Dalam 12 tahun terakhir, Kementerian ESDM membangun 1.782 sumur bor air tanah yang dapat melayani sekitar 5 juta jiwa, termasuk 53 sumur di Jawa Timur yang mampu melayani sekitar 120 ribu jiwa. “Sabtu kemarin Menteri ESDM, Ignasius Jonan meresmikan salah satu sumur bor di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Desa Suci, Kabupaten Jember,” terangnya.
Sementara Menteri ESDM, Ignasius Jonan menuturkan tahun ini, akan dibangun sumur bor air tanah di 550 lokasi, termasuk 78 lokasi di Jawa Timur. Pemanfaatan APBN lanjut Ignasius Jonan, harus dirasakan langsung masyarakat terutama menengah kebawah. “APBN adalah uang rakyat, jadi kembali ke rakyat. Sumur bor air tanah untuk daerah sulit air merupakan bagian dari pelayanan berkeadilan sosial, yang terjemahan kita adalah semua kebutuhan dasar bagi seluruh warga sebisa mungkin terpenuhi,” ungkap Menteri Jonan.
Untuk diketahui, Sumur bor di Pesantren Raudlatul Ulum dapat melayani kebutuhan air bersih bagi seluruh santri dan masyarakat sekitar, dengan kapasitas layanan lebih dari 1.400 jiwa. Sebanyak 350 santri termasuk 150 santri yang menetap atau tinggal di pesantren, kini bisa memenuhi kebutuhan air bersih untuk kegiatan sehari-hari.
Sebelum ada sumur bor tersebut, kegiatan di pesantren yang didirikan tahun 1988 tersebut tidak bisa maksimal karena kekurangan air. Santri harus pergi jalan kaki sejauh 2 km untuk mandi. Bahkan untuk ambil air wudhu pun sulit.
“Pas mau sholat mesti cari air. Di sini ada air dari pegunungan tapi tidak cukup, hanya bertahan hingga jam 9, karena banyak dipakai anak-anak sekolah. Kalau sekarang air keran hidup, mau jam berapapun bisa,” ungkap bapak Abdullah, pengurus Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Desa Suci, Kabupaten Jember.

Masyarakat sekitar pun juga turut menikmati air bersih tersebut. Pada musim hujan misalnya, saat air dari pegunungan keruh dan tidak layak dikonsumsi, masyarakat mengambil air di sumur bor tersebut. “Kalau masyarakat ada yang butuh, bawa (dirijen air) ke sini. Karena pada saat air keruh, untuk konsumsi tidak layak. Kalau sudah seperti itu masyarakat ramai ambil air disini,” ungkap bapak Abdullah. (Febe Prima/Yoni Alfiansyah)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *